ilmu pernafasan dan meditasi

Monday, February 1, 2016

PENGERTIAN DEWATA NAWA SANGA

         Banyak yang salah kaprah menyamakan Dewa/Dewata dengan Sang Hyang Widhi Wasa.Padahal Dewa/Dewata nawa sanga tidak sama dengan Sang Hyang Widhi.Sudah sangat jelas perbedaannya,jika kita melakukan persembahyangan kepada Dewa dan bantennya ada yang kurang,sudah pasti akan terjadi sesuatu.Namun jika kita menyembah Sang Hyang Tunggal tidak banyak membutuhkan banten/sarana,bahkan cukup hanya dengan dupa dan bunga saja,jika tidak ada sama sekali dupa dan bunga sekalipun Sang Hyang Tunggal tidak pernah KRODA/MARAH,yang penting disini adalah doa/mantranya ikhlas dan tulus.
       Contohnya jika kita mecaru/odalan pura dan bantennya ada yang kurang untuk persembahan kepada Dewa.maka biasanya ada yang kerasukan/trance dan langsung mengatakan kekurangannya. Biasanya pemangku/pedanda mengatakan orang tersebut kerasukan Ida betara/Dewa yang melinggih di pura tersebut.Dalam benak saya berpikir kok bisa kerasukan Ida Betara/Dewa yang melinggih di pura itu.Padahal kalau saya,baca dari literatur kitab suci,tidak sembarangan orang bisa kerasukan Ida Betara/Dewa hanya orang pilihan dan suci saja badan kasarnya dimasuki Ida Betara/Dewa.Karena manusia sekarang beda dengan manusia zaman dahulu kala.Zaman dahulu orang kebanyakan kerjanya bertapa dan hanya mengejar spiritual sehingga banyak orang-orang suci yang menerima WAHYU.Beda dengan orang zaman sekarang lebih banyak mengejar materi [bersifat keduniawian daripada batiniah],istilah balinya manusia sekarang lebih LETEH/KOTOR sehingga tidak mungkin menerima WAHYU.Yang menjadi pertanyaan kok bisa orang zaman sekarang kerasukan Ida Betara/Dewa, biarpun orang tersebut dikatakan orang pilihan tetap saja orangnya lebih LETEH/KOTOR daripada orang zaman dahulu??Buktinya kalau orang suci zaman dahulu sekali mengucapkan kutukan kepada orang maka kutukan itu akan benar terjadi sampai akhir hayatnya dan kutukannya tidak bisa ditarik kembali tapi kalau orang zaman sekarang mengutuk,biapun sampai berbusa-busa mengutuk orang.Kutukannya tidak akan menjadi kenyataan kecuali disantet/diguna-gunai bisa jadi kenyataan.Dari sini saja sudah bisa ditarik kesimpulan tidak mungkin orang zaman sekarang bisa kerasukan Dewa/Ida Betara,kemungkinan kerasukan pengikut/pendamping/anak buah Dewa/Ida Betara atau kerasukan BHUTA KALA YANG NYAMAR JADI DEWA/IDA BETARA?!. 
                        Dewa adalah perwujudan sinar suci dari Hyang Widhi (Tuhan) yang memberikan kekuatan suci untuk kesempurnaan hidup mahluk. Dewa berasal dari bahasa Sansekerta “div” yang artinya sinar. Dewa bukan Tuhan diciptakan untuk maksud tujuan tertentu yang mempunyai sifat hidup dan mempunyai sifat kerja ( karma ) . 

Jumlah Dewa yaitu sebanyak 33 yang terdapat di tiga ( 3 ) alam ( mandala ) . Ketigapuluh tiga Dewa tersebut terdiri dari 8 Vasu ( Basu ), 11 Rudra, 12 Aditya, Indra dan Prajapati. 

        Menurut Upanishad Brihadaranyaka dan itihasa Mahabharata, Kedelapan Vasu tersebut adalah : 


1.Agni ( dewa api - "Panas api" ), atau Anala (juga disebut Agni) yang bermakna "Hidup" 


2.Prthivi ( dewa tanah - "Bumi" ), atau Dhara yang bermakna "Dukungan" 


3.Vayu ( dewa angin - "Angin" ), atau Anila yang bermakna "Angin" 


4.Dyaus ( dewa langit - "Langit" ), atau Prabhasa yang bermakna "Bersinar fajar" 


5.Aditya ( dewa matahari - "Abadi", nama yang sangat umum untuk matahari adalah Surya ), atau Pratyūsha yang bermakna "Pra-fajar", yaitu senja pagi, tetapi sering digunakan hanya berarti "cahaya" 


6.Savitra ( dewa antariksa - "Ruang" ), atau Ha yang bermakna "Meresapi" 


7.Chandramas ( dewa bulan - "Bulan" ), atau Soma yang bermakna "Soma-tanaman", dan nama yang sangat umum untuk bulan 


8.Nakstrani ( dewa bintang - "Bintang" ), atau Dhruva yang bermakna "Bergerak".


     Rudra sebagai salah satu aspek Deva-deva, merupakan unsur hidup dan kehidupan yang disebut sebagai Rudra prana. Kesebelas Rudras yang mengatur alam semesta (buana agung dan buana alit), diantaranya Kapali, pingala, Bima, Virupaksha, Vilohita, Shasta, Ajapada, Abhirbudhnya, Shambu, Chanda, dan Bhava.

     Dalam Hindu sebagai sinar suci atau manifestasi Tuhan yang menguasai, menjaga alam semesta, Dewa juga dilengkapi dengan senjata, kendaraan dan juga diwujudkan dalam bentuk simbol atau aksara. Semua perwujudan Dewa dan Saktinya diwujudkan berbeda-beda tergantung dari penggambaran umat Hindu terhadap beliau. Misalnya wujud Dewa dan Saktinya di India dan di Bali sangatlah berbeda, namun fungsinya sama. 



Dalam ajaran Hindu BALI, jumlah Dewa banyak sekali sesuai setiap fungsi yang ada dalam alam semesta ini. Diibaratkan Sang Hyang Widhi adalah Matahari, maka Dewa adalah sinar matahari yang jumlahnya tak terhingga. Matahari dikatakan panas, namun sinar nyalah yang menyentuh kita secara langsung.Dalam agama lain disebutkan Dewa itu sebagai Malaikat. 



      Dalam ajaran Hindu ada sebutan Tri Murti, Panca Dewata/Panca Brahma, Dewata Nawa Sanga, Asta Dewata, Panca Korsika dan lainnya.
         Panca Dewata adalah manifestasi Sang Hyang Widhi sebagai penjaga segala penjuru mata angin yaitu :

A.Sadyojata (Iswara) di Timur dengan aksara suci “Sa” 

B.Bamadewa (Brahma) di Selatan dengan aksara suci “Ba” 

C.Tat Purusa (Maha Dewa) di Barat dengan aksara suci “Ta” 

D.Aghora (Wisnu) di Utara dengan aksara suci “A” 

E.Isana (Siwa) di Tengah dengan aksara suci “I” 

Panca Dewata disebut juga dengan Panca Brahma, sehingga kelima aksara suci “Sa Ba Ta A I” disebut “Panca Brahma Wijaksara”. 
     Disamping itu ada juga lima manifestasi Hyang Widhi lainnya yaitu :

1.Maheswara di Tenggara dengan aksara suci “Na” 

2.Rudra/Ludra di Barat Daya dengan aksara suci “Ma" 

3.Sangkara di Barat Laut dengan aksara suci “Si” 

4.Sambu di Timur Laut dengan aksara suci “Wa” 

5.Siwa di Tengah dengan aksara suci “Ya” 
   
        Kelima aksara suci “Na Ma Si Wa Ya” disebut dengan Panca Aksara. 
Namun dalam ajaran agama Budha Mahayana, Panca Dewata (Panca Brahma) disebut dengan “Panca Tatagata” yaitu:
1.Aksobhya di Timur dengan aksara suci “Ah” 

2.Ratnasambhawa di Selatan dengan aksara suci “Ung” 

3.Amitaba di Barat dengan aksara suci “Trang” 

4.Amogasidhi di Utara dengan aksara suci “Hrih” 

5.Wairocana di Tengah dengan aksara suci “Ang”
Sehingga kelima aksara “Ah Ung Trang Hrih Ang” disebut dengan Panca Wijaksara Tatagata sedangkan Panca aksara Budha nya “Na Ma Bu Da Ya”. 
Apabila dalam Panca Aksara dan Panca Brahma Wijaksara digabungkan menjadi DASA AKSARA “Sa Ba Ta A I Na Ma Si Wa Ya”, jika ditambahkan dengan aksara “Om” maka disebut “Eka Dasa Aksara”. 
Dewata Nawa Sanga sering disebut juga dengan “Loka Pala”. 

Asta Dewata adalah delapan manifestasi sifat Hyang Widhi sebagai penguasa yaitu : 

1.Indra menguasai Hujan 

2.Baruna menguasai Lautan 

3.Yama menguasai Arwah Manusia 

4.Kuwera menguasai Kekayaan Alam 

5.Bayu menguasai Angin 

6.Agni menguasai Api 

7.Surya menguasai Matahari 

8.Candra menguasai Bulan 

Beberapa sebutan lain manifestasi Sang Hyang Widhi di penjuru mata angin adalah Panca Korsika, yaitu: 

1.Sang Hyang Korsika di Timur 

2.Sang Hyang Garga di Selatan 

3.Sang Hyang Mentri di Barat 

4.Sang Hyang Kurusya di Utara 

5.Sang Hyang Prutanjala di Tengah 

Dewata Nawasanga adalah sembilan dewa atau manifestasi Ida Sang Hyang Widhi Wasa yang menjaga atau menguasai sembilan penjuru mata angin. Sembilan dewa itu adalah Dewa Wisnu, Sambhu, Iswara, Maheswara, Brahma, Rudra, Mahadewa, Sangkara, dan Siwa. 

TIMUR LAUT 

Urip : 6; 
Dewa : Sambu; 
Sakti : Maha Dewi; 
Senjata : Trisula; 
Warna : Biru; 
Aksara : Wa; 
Bhuwana Alit : Ineban; 
Tunggangannya : Wilmana; 
Bhuta : Pelung; 
Tastra : Pa dan Ja; 
Sabda : Mang mang; 
Wuku : Kulantir, Kuningan, Medangkungan, Kelawu; 
Caturwara : Sri; 
Sadwara : Urukung; 
Saptawara : Sukra; 
Astawara : Sri; 
Sangawara : Tulus; 
Dasawara : Sri; 

Dewa Sambhu merupakan penguasa arah timur laut (Ersanya), bersenjata Trisula, wahananya (kendaraan) Wilmana, shaktinya Dewi Mahadewi, aksara sucinya "Wa", di Bali beliau dipuja di Pura Besakih terletak di Kabupaten Karangasem 
Banten : Dewata-dewati, Sesayut Telik Jati, Tirta Sunia Merta; 
Mantra : Ong trisula yantu namo tasme nara yawe namo namah, ersanya desa raksa baya kala raja astra, jayeng satru, Ong kalo byo namah. 

TIMUR 

Urip : 5; 
Dewa : Iswara; 
Sakti : Uma Dewi; 
Senjata : Bajra; 
Warna : Putih; 
Aksara : Sa (Sadyojata)
Bhuwana Alit : Pepusuh; 
Tunggangannya : Gajah; 
Bhuta : Jangkitan; 
Tastra : A dan Na; 
Sabda : Ngong ngong; 
Wuku : Taulu, Langkir, Matal, Dukut; 
Dwiwara : Menga; 
Pancawara : Umanis; 
Sadwara : Aryang; 
Saptawara : Redite; 
Astawara : Indra; 
Sangawara : Dangu; 
Dasawara : Pandita; 

Dewa Iswara merupakan penguasa arah timur (Purwa), bersenjata Bajra, wahananya (kendaraan) gajah, shaktinya Dewi Uma, aksara sucinya "Sa", di Bali beliau dipuja di Pura Lempuyang. 
Banten : Penyeneng, Sesayut Puja Kerti; 
Mantra : Ong bajra yantuname tasme tikna rayawe namo namah purwa desa, raksana ya kala rajastra sarwa, satya kala byoh namah namo swaha. 

TENGGARA 

Urip : 8; 
Dewa : Mahesora; 
Sakti : Laksmi Dewa; 
Senjata : Dupa; 
Warna : Dadu/Merah Muda; 
Aksara : Na; 
Bhuwana Alit ; Peparu; 
Tunggangannya : Macan; 
Bhuta : Dadu; 
Tastra : Ca dan Ra; 
Sabda : Bang bang; 
Wuku : Uye, Gumbreg, Medangsia, Watugunung; 
Caturwara : Mandala; 
Sadwara : Paniron; 
Saptawara : Wraspati; 
Astawara : Guru; 
Sangawara : Jangu; 
Dasawara : Raja;

Dewa Maheswara merupakan penguasa arah tenggara (Gneyan), bersenjata Dupa, wahananya (kendaraan) macan, shaktinya Dewi Lakshmi, aksara sucinya "Na", di Bali beliau dipuja di Pura Goa Lawah terletak di Kabupaten Klungkung 
Banten : Canang, sesayut Sida Karya, Tirta Pemarisuda; 
Mantra : Ong dupa yantu namo tasme tiksena nara yawe namo namah, genian dasa raksa raksa baya kala rajastra, jayeng satru kala byoh namo namah. 

SELATAN 

Urip : 9; 
Dewa : Brahma; 
Sakti: Saraswati Dewi; 
Senjata : Gada / Danda; 
Warna : Merah; 
Aksara : Ba (Bamadewa)
Bhuwana Alit : Hati; 
Tunggangannya : Angsa; 
Bhuta : Langkir; 
Tastra : Ka dan Da; 
Sabda : Ang ang; 
Wuku : Wariga, Pujut, Menail; 
Triwara : Pasah; 
Pancawara : Paing; 
Sadwara : Was; 
Saptawara : Saniscara; 
Astawara : Yama; 
Sangawara : Gigis; 
Dasawara : Desa;

Dewa Brahma merupakan penguasa arah selatan (Daksina), bersenjata Gada, wahananya (kendaraan) angsa, shaktinya Dewi Saraswati, aksara sucinya "Ba", di Bali beliau dipuja diPura Andakasa terletak di Kabupaten Karangasem 
Banten : Daksina, Sesayut Candra Geni, Tirta Kamandalu; 
Mantra : Ong danda yantu namo tasme tiksena nara yawe namo namah, daksina desa raksa baya, kala rajastra jayeng satru, Ong kala byoh nama swaha. 

BARAT DAYA 

Urip : 3; 
Dewa : Rudra; 
Sakti : Santani Dewi; 
Senjata : Moksala; 
Warna : Jingga; 
Aksara : Ma; 
Bhuwana Alit : Usus; 
Tunggangannya : Kebo; 
Bhuta : Jingga; 
Tastra : Ta Dan Sa; 
Sabda : Ngi ngi; 
Wuku : Warigadian, Pahang, Prangbakat; 
Caturwara : Laba; 
Sadwara : Maulu; 
Saptawara : Anggara; 
Astawara : Ludra; 
Sangawara : Nohan; 
Dasawara : Manusa 

Dewa Rudra merupakan penguasa arah barat daya (Nairiti), bersenjata Moksala, wahananya (kendaraan) kerbau, shaktinya Dewi Samodhi/Santani, aksara sucinya "Ma", di Bali beliau dipuja di Pura Uluwatu terletak di Kabupaten Badung 
Banten : Dengen dengen, Sesayut Sida Lungguh, Tirta Merta Kala, Tempa pada Usus; 
Mantra : Ong moksala yantu namo tasme tiksena nara yawe namo namah, noritya desanya raksa baya kala rajastra, jayeng satru Ong kala byoh nama swaha. 

BARAT 

Urip : 7; 
Dewa : Mahadewa; 
Sakti : Saci Dewi; 
Senjata : Nagapasa; 
Warna : Kuning; 
Aksara : Ta (Tat Purusa)
Bhuwana Alit : Ungsilan; 
Tunggangannya : Naga; 
Bhuta : Lembu Kanya; 
Tastra : Wa dan La; 
Sabda : Ring ring; 
Wuku : Sinta, Julungwangi, Krulut, Bala; 
Triwara : Kajeng; 
Pancawara : Pon; 
Sadwara : Tungleh; 
Saptawara : Buda; 
Astawara : Brahma; 
Sangawara : Ogan; 
Dasawara : Pati;

Dewa Mahadewa merupakan penguasa arah barat (Pascima), bersenjata Nagapasa, wahananya (kendaraan) Naga, shaktinya Dewi Sanci, aksara sucinya "Ta", di Bali beliau dipuja di Pura Batukaru terletak di Kabupaten Tabanan 
Banten : Danan, Sesayut tirta merta sari, Tirta Kundalini; 
Mantra : Ong Naga pasa yantu namo tasme tiksena nara yawe namo, pascima desa raksa bala kala rajastra, jayeng satru, Ong kala byoh namo namah swaha. 

BARAT LAUT 

Urip : 1; 
Dewa : Sangkara; 
Sakti : Rodri Dewi; 
Senjata : Angkus /Duaja; 
Warna : Wilis / Hijau; 
Aksara : Si; 
Bhuwana Alit : Limpa; 
Tunggangannya : Singa; 
Bhuta : Gadang/Hijau; 
Tastra : Ma dan Ga; 
Sabda : Eng eng; 
Wuku : Landep, Sungsang, Merakih, Ugu; 
Ekawara : Luang; 
Caturwara : Jaya; 
Astawara : Kala; 
Sangawara : Erangan; 
Dasawara : Raksasa; 

Dewa Sangkara merupakan penguasa arah barat laut (Wayabhya), bersenjata Angkus/Duaja, wahananya (kendaraan) singa, shaktinya Dewi Rodri, aksara sucinya "Si", di Bali beliau dipuja di Pura Puncak Mangu terletak di Kabupaten Badung 
Banten : Caru, Sesayut candi kesuma, Tirta Mahaning; 
Mantra : Ong duaja yantu namo tiksena nara yawe namo, waybya desa raksa baya kala rajastra, jayeng satru, Ong kalo byoh namo namah swaha. 

UTARA 

Urip : 4; 
Dewa : Wisnu; 
Sakti : Sri Dewi; 
Senjata : Cakra; 
Warna : Ireng / Hitam; 
Aksara : A (Aghora)
Bhuwana Alit : Ampru; 
Tunggangannya : Garuda; 
Bhuta : Taruna; 
Tastra : Ba dan Nga; 
Sabda : Ung; 
Wuku : Ukir, Dungulan, Tambir, Wayang; 
Dwiwara : Pepet; 
Triwara : Beteng; 
Pancawara : Wage; 
Saptawara : Soma; 
Astawara : Uma; 
Sangawara : Urungan; 
Dasawara : Duka; 

Dewa Wisnu merupakan penguasa arah utara (Uttara), bersenjata Chakra Sudarshana, wahananya (kendaraan) Garuda, shaktinya Dewi Sri, aksara sucinya "A", di Bali beliau dipuja di Pura Ulundanu terletak di Kabupaten Bangli 
Banten : Peras, Sesayut ratu agung ring nyali, Tirta Pawitra; 
Mantra : Ong cakra yantu namo tasme tiksena ra yawe namo namah utara desa raksa baya, kala raja astra jayeng satru, Ong kala byoh namo namah swaha. 

TENGAH 

Urip : 8; 
Dewa : Siwa; 
Sakti : Uma Dewi (Parwati); 
Senjata : Padma; 
Warna : Panca Warna brumbun; 
Aksara : I (Isana) dan Ya; 
Bhuwana Alit : Tumpuking Hati; 
Tunggangannya : Lembu; 
Bhuta : Tiga Sakti; 
Tastra : Ya dan Nya; 
Sabda : Ong; 
Saptawara : Kliwon; 
Sangawara : Dadi;

Dewa Siwa merupakan penguasa arah tengah (Madhya), bersenjata Padma, wahananya (kendaraan) Lembu Nandini,senjata Padma shaktinya Dewi Durga (Parwati), aksara sucinya "I" dan "Ya", di Bali beliau dipuja di Pura Besakih terletak di Kabupaten Karangasem 
Banten : Suci, Sesayut Darmawika, Tirta Siwa Merta, Sunia Merta, Maha Merta; 
Mantra : Ong padma yantu namo tasme tiksena nara yawe namo namah, madya desa raksa baya, kala rajastra jayeng satru kala byoh namo swaha.

       Menurut Agama Hindu Dewata Nawa Sanga terdiri dari dari empat warna dasar yaitu : merah, putih, kuning, dan hitam. Hal ini disebabkan karena warna hijau yang berada di barat laut ( barat dan utara ) merupakan perpaduan antara kuning dan hitam ; warna dadu yang berada di tenggara ( timur dan selata ) merupakan perpaduan antara putih dengan merah ; warna jingga yang berada di barat daya ( barat dan selatan ) merupakan perpaduan antara merah dengan kuning.

Fungsi dan Makna Warna dalam Dewata Nawa Sanga

Berdasarkan simbol simbol yang ada dalam Dewata Nawa Sanga, maka fuungsi dan makna warna dalam Dewata Nawa Sanga dalam Agama Hindu dapat dianalisis seperti dibawah ini : 

1.Makna warna hitam yang berada disebelah utara dengan Dewa Wisnu menurut budaya hindu berarti gunung, dengan fungsi sebagai pemelihara. Berarti arang, gelap, sedangkan makna universal memiliki makna : buruknya berarti : ketakutan, sial, kematian, penguburan, penghancuran, berkabung, anarkis, kesedihan, suram, dan baiknya berarti : kesalehan, kealiman, kemurnian, kesucian, kesederhanaan ,pemelihara kehidupan. 

2.Makna warna Merah yang berada di Selatan dengan Dewa Brahma dengan pusaka Gada dan tanda api memiliki makna budaya laut, pencipta dan kekuatan,berarti api dan darah. Makna universal yang terkandung dalam warna merah adalah : sumber dari segala sumber, berani, cinta , emosi , darah (rudhira), kehidupan, kebesaran, emosi, kemegahan, murah hati, cantik, hangat, berani, api, panas, bahaya, cinta (manusia à ß Tuhan), perang, sumber panas, benih dari kehidupan 

3.Makna warna Putih dengan Dewa Iswara yang bersenjata Bajra, berada di sebelah Timur, dan dengan tanda jantung mempunyai makna matahari, pelebur, dan sumber kebangkitan. Makna putih berarti terang, salju, dan susu dan makna universal berarti penerangan, pahlawan , sorga, kebangkitan, centre of human body, cinta, kesetiaan, penyerahan diri, absolut, suci, murni, lugu, tidak berdosa, perawan, simbol persahabatan, damai, jujur, kebenaran, bijaksana, alat untuk mencapai surga, kekeuatan angin 

4.Makna warna Kuning disebelah Barat dengan Dewa Mahadewa dengan senjata Nagasapah dan tanda lingkungan kabut memiliki makna budaya matahari terbenam, penjaga keseimbangan dan kekuasaan, berarti matahari. Makna universal dari warna kuning adalah buruknya : cemburu, iri, dengki, dendam,bohong, penakut, dan baiknya ; cahaya, kemuliaan, keagungan, kesucian, murah hati, bijaksana. 

5.Makna warna Hijau yang berada di sebelah barat laut dengan Dewa Sangkara dan senjata angkus, dengan tanda lingkungan mendung memiliki makna budaya penyatuan matahari terbenam & laut, keseimbangan, kesempurnaan berarti tumbuh-tumbuhan, dan secara universal memiliki makna akhir dari segalanya, tumbuhan, kehidupan, kesuburan, vitalitas, muda, kelahiran kembali, harapan, kebebasan, dan simbol : kesuburan. 

6.Makna warna Biru yang dalam Dewata Nawa Sanga berada di Timur Laut dengan Dewa Sambu bersenjata Trisula, dengan tanda lingkungan awan tebal memiliki makna budaya penyatuan matahari & laut, keseimbangan alam, penyatuan kebang-kitan, pemeliharaan dan pemusnahan ; kebebasan rohani.  Biru berarti laut, langit, sedangkan makna universalnya adalah sumber dari segala sumber, sorga, langit, bangsawan, jujur, cinta, setia, kebenaran, kesedihan, dan makna asosiasi : hujan, banjir, kesedihan 

7.Makna warna Dadu yang dalam Dewata Nawa Sanga berada disebelah tenggara dengan dewa Mahesora bersenjata dupa dan tanda lingkungan rambu (awan tipis) memiliki makna budaya penyatuan antara gunung dan matahari, keseimbangan alam, pembunuh indria.Warna dadu memiliki makna yang sama dengan makna asali dari warna putih dan merah. Makna universalnya adalah : kebangkitan, kesadaran, kesadaran, kehidupan, halus, anggun, megah, persahabatan, kedamaian, emosional, dan dingin 

8.Makna warna Jingga dengan Dewa Rudra bersenjata Moksala yang berada di sebelah Barat Daya dengan tanda lingkungan halilintar, memiliki makna budaya penyatuan matahari terbenam dan gunung, pembasmi, kedahsyatan, sumber kemurkaan. Sedangkan makna Jingga merupakan makna yang terkandung dalam warna merah dan kuning. Makna Universal warna kuning adalah darah, kematian, bahaya, kehidupan, hangat, dendam, murka, pengorbanan, penyerahan diri, penyerahan, dan pengorbanan. 

9.Makna warna Brumbun yang merupakan campuran warna putih + kuning + hitam + merah yang berada di tengah dengan Dewa Ciwa bersenjata Padma dan tanda lingkungan topan memiliki makna budaya pusat, pemusnah dan dasar dari semua unsur, kesucian. Makna warna ini  adalah makna asali dari warna putih, kuning, hitam dan merah.SEKIAN DARI SAYA SEMOGA ADA MANFAATNYA BUAT UMAT HINDU.


OLEH .GEDE.S.WWW.POWER-METAFISKA.BLOGSPOT.COM

Wednesday, January 27, 2016

PERHITUNGAN HARI BAIK PERKAWINAN DAN KELAHIRAN

PERKAWINAN MENURUT SASIH

1.
Kasa
: kurang baik,anak kesakitan
2.
Karo
: tidak baik,biasa sengsara
3.
Ketiga
: kadang-kadang baik/buruk semua anak
4.
Kapat
: baik akan kaya,banyak punya anak
5.
Kelima
: baik,tidak kurang sandang pangan
6.
Kanem
: kadang-kadang baik,kadang-kadang buruk
7.
Kapitu
: baik,panjang umur
8.
Kaulu
: tidak baik,kehabisan sandang pangan
9.
Kasanga
: amat kurang baik,bisa kesakitan
10.
Kadasa
: amat baik,mendapat kesenangan sebagai raja
11.
Desta
: kurang baik,sering mendapat malu
12.
Asada
: kurang baik,sering mendapat sakit

PERJODOHAN DAN PERTEMUAN SUAMI ISTRI :

Diambil dari hari kelahiran menurut neptu sapta wara & panca wara yang jumlahnya dibagi 9 :

1 dengan 1 = baik,dikasihi orang
1 dengan 2 = baik
1 dengan 3 = kuat,jauh rejekinya
1 dengan 4 = banyak celakanya
1 dengan 5 = putus[bercerai]
1 dengan 6 = dijauhi sandang pangan
1 dengan 7 = banyak musuh
1 dengan 8 = kurang menentu
1 dengan 9 = jadi perlindungan
2 dengan 2 = selamat,banyak rejeki
2 dengan 3 = lekas ditinggal
2 dengan 4 = banyak godaan
2 dengan 5 = banyak celaka
2 dengan 6 = lekas kaya
2 dengan 7 = anak banyak mati
2 dengan 8 = murah rejekinya
2 dengan 9 = banyak rejekinya
3 dengan 3 = melarat
3 dengan 4 = banyak celaka
3 dengan 5 = cepat putus[cerai]
3 dengan 6 = dapat anugerah
3 dengan 7 = banyak celaka
3 dengan 8 = salah satu meninggal
3 dengan 9 = kaya rejeki
4 dengan 4 = sering sakit
4 dengan 5 = banyak rencana
4 dengan 6 = kaya rejeki
4 dengan 7 = melarat
4 dengan 8 = banyak pahalanya
4 dengan 9 = kalah salah satunya
5 dengan 5 = terus kebaikannya
5 dengan 6 = rejekinya banyak
5 dengan 7 = sandang pangan baik
5 dengan 8 = banyak cita-citanya
5 dengan 9 = murah sandang pangannya
6 dengan 6 = besar celakanya
6 dengan 7 = rukun dan damai
6 dengan 8 = banyak susahnya
6 dengan 9 = terkatung-katung
7 dengan 7 = dihukum oleh istri
7 dengan 8 = dapat celaka dari istri
7 dengan 9 = terus pahala karmanya
8 dengan 8 = dikasihi oleh orang
8 dengan 9 = banyak celakanya
9 dengan 9 = kurang dapat rejeki

Contoh :

Laki                    lahir : Minggu 5          +            Umanis 5         =          10 : 9 = 1 sisa 1

Wanita              lahir : JUmat 6             +            kliwon 8           =          14 : 9 = 1 sisa 5

Jadi 1 dengan 5 : putus [cerai] tidak baik.


JAYA /SUKSES MENCARI KERJA BERDASARKAN NEPTU :


Neptu 7 : jaya ke utara atau ke timur

Neptu 8 : jaya ke utara atau ke timur

Neptu 9 : jaya ke selatan atau ke timur

Neptu 10 : jaya ke selatan atau ke timur

Neptu 11 : jaya ke barat

Neptu 12 : jaya ke utara atau ke barat

Neptu 13 : jaya ke utara atau ke barat

Neptu 14 : jaya ke selatan atau ke timur

Neptu 15 : jaya ke barat atau ke timur

Neptu 16 : jaya ke barat atau ke timur

Neptu 17 : jaya ke utara atau ke barat

Neptu 18 : jaya ke utara atau ke timur

perjodohan menurut hari lahir
Jumlah urip hari kelahiran laki + wanita antara Sapta Wara + Panca Wara dibagi 5 yaitu bilangan urip : Sapta + Panca + Sad Wara : dibagi lima
keterangan :

Sisa 1 : Sri/baik, makmur.
Sisa 2 : Gedong/terlindung dalam gedung.
Sisa 3 : Peta/buruk, gaduh, bertengkar.
Sisa 4 : Lara/Buruk, Menderita Sakit-sakitan.
Sisa 5 : Pati/batal, mendapat bahaya.

Urip Sapta Wara

Redite = 5
Soma = 4
Anggara = 3
Buda = 7
Wraspati = 8
Sukra = 6
Saniscara = 9

Urip Panca Wara

Umanis = 5
Paing = 9
Pon = 7
Wage = 4
Kliwon = 8

Contoh:

Misalnya hari lahir : Soma+Wage dan hari lahir pasangan anda : Buda+Umanis

maka :
Soma = 4, Wage = 4
4 + 4 = 8
Buda = 7, Pon = 7
7 + 7 = 14
maka 8 + 14 = 22 : 5 = (hasilnya sisa 2)
pendewasan dapat dibagi dua bagian antara lain;

Pedewasan Sehari – hari yang hanya berdasarkan perhitungan;
pawukon (Ingkel, rangda Tiga, Tanpa Guru, Was Penganten dll)
Tri wara (Pasah untuk memisahkan, Beteng untuk mempertemukan, Kajeng untuk wasiat)
Sapta wara (Soma/senin, Budha/rabu dan Sukra/jumat, yang lainya termasuk kurang baik)
Sanga wara ( yang terbaik adalah Tulus dan Dadi)
Dauh Inti, berlaku pada waktu/jam tertentu saja, dari jam sekian sampai dengan sekian saja.
Pedewasan Inti berdasarkan Perhitungan yang terperinci, antara lain; ayu mulus, Dauh ayu, Ayu badra,mertha yoga, Mertha masa, Mertha dewa, Mertha danta, Sedana yoga, Subacara, Dewa ngelayang, dengan tidak melupakan hal – hal yang tersebut diatas serta dihubungkan dengan baiknya sasih dan Penanggal.

urip wewaran

#Urip Panca wara; Umanis (5), Pahing (9), Pon (7), Wage (4), Kliwon (8).

#Urip Sapta wara; dina radite/Minggu (5), Soma/Senin (4), Anggara/Selasa (3), Budha/Rabu (7), Wraspati/Kamis (8), Sukra/Jumat (6), Saniscara/Sabtu (9).

#Urip Wuku;
Sita (7)
landep (1)
ukir (4)
kilantir (6)
taulu (5)
gumbreg (8)
wariga (9)
warigadean (3)
julungwangi (7)
sungsang (1)
dunggulan (4)
kuningan (6)
langkir (5)
medangsia (8)
pujut (9)
Pahang (3)
krulut (7)
merakih (1)
tambir (4)
medangkungan (6)
matal (5)
uye (8)
menial (9)
prangbakat (3)
bala (7)
ugu (1)
wayang (4)
klawu (6)
dukut (5)  
watugunung (8)
Bilangan Sapta wara; Redite (0), Soma (1), Anggara (2), Budha (3), Wraspati (4), Sukra (5), Saniscara (6).
Bilangan wuku Sita (1), landep (2), ukir (3), kilantir (4), taulu (5), gumbreg (6), wariga (7), warigadean (8), julungwangi (9), sungsang (10), dunggulan (11), kuningan (12), langkir (13), medangsia (14), pujut (15), Pahang (16), krulut (17), merakih (18), tambir (19), medangkungan (20), matal (21), uye (22), menial (23), prangbakat (24), bala (25), ugu (26), wayang (27), klawu (28), dukut (29) dan watugunung (30).

RUMUS PERHITUNGAN WARIGA
Ingkel (pantangan) mulai dari Redite/Minggu dan berakhir pada Saniscara/Sabtu (7 hari) dan bilangan wuku dibagi 6, sisa;

Wong / yang berhubungan dengan Manusia.
Sato / yang berhubungan dengan Hewan.
Mina / yang berhubungan dengan Ikan.
Manuk/ yang berhubungan dengan Burung/Unggas.
Taru / yang berhubungan dengan Tumbuhan Berkayu.
Buku / yang berhubungan dengan Tumbuhan Berbuku.


Eka wara ; Urip Pancawara + Urip Saptawara = Ganjil = Luang (tunggal/padat) -> urip 1

Dwi wara; Urip Pancawara + Urip Saptawara =    Ganjil = menga (terbuka) -> urip 5 ; Genap = pepet (tertutup) -> urip 4
Tri Wara ; (Bilangan WUKU x 7 + bilangan Saptawara yang dicari) : 3 = sisa    
           => Pasah (ditujukan kepada Dewa) -> urip 9
           => Beteng (ditujukan kepada Dewa) -> urip 4
           => Kajeng (ditujukan kepada Bhuta) -> urip 7
Catur wara ; (Bilangan WUKU x 7 + bilangan Saptawara yang dicari) : 4 = sisa
           => sri (makmur) -> urip 6
           => Laba (pemberian/imbalan) -> urip 5
           => Jaya (unggul) -> urip 1
           => Menala (sekitar daerah) -> urip 8

Dari Redite Sinta sampai dengan Redite Dunggulan + 2, Soma Dunggulan + 1, sebelum dibagi. ini disebabkan adanya Jaya Tiga pada Wuku Dunggulan berturut – turut dari redite, selanjutnya rumus berlaku seperti biasa.
Panca wara ; (Bilangan WUKU x 7 + bilangan Saptawara yang dicari) : 5 = sisa
          => Umanis (penggerak) -> urip 5
          => Paing (pencipta) -> urip 9
          => Pon (penguasa) -> urip 7
          => Wage (pemelihara) -> urip 4
          => Kliwon (pemusnah/pelebur) -> urip 8

Sad Wara ; (Bilangan WUKU x 7 + bilangan Saptawara yang dicari) : 6 = sisa
          => Tungleh (tak kekal) -> urip 7
          => Ariang (kurus) -> urip 6
          => Urukung (punah) -> urip 5
          => Paniron (gemuk) -> urip 8
          => Was (kuat) -> urip 9
          => Maulu (membiak) -> urip 3
Jejepan ; (Bilangan WUKU x 7 + bilangan SAPTAWARE yang dicari) : 6 = sisa
          => Mina (ikan)
          => taru(kayu)
          => Sato (hewan)
          => patra(tumbuhan merambat/menjalar)
          => Wong (manusia)
          => Paksi (burung/unggas)
Astha wara ; (Bilangan WUKU x 7 + bilangan Saptawara yang dicari) : 8 = sisa
          => Sri (makmur) -> urip 6
          => Indra (indah) -> urip 5
          => Guru (tuntunan) -> urip 8
          => Yama (adil) -> urip 9
          =>ludra (peleburan) -> urip 3
          =>Brahma (pencipta) -> urip 7
          => kala(nilai) -> urip 1
          => Uma (pemelihara) -> urip 4
Dari Redite Sinta sampai Redite Dunggulan + 2, Soma Dunggulan +1, sebelum dibagi. selanjutnya rumus berlaku sebagai biasa.
Sanga Wara ; (Bilangan WUKU x 7 + bilangan Saptawara yang dicari) : 9 = sisa
          => Dangu (antara terang dan gelap) -> urip 5
          => Jangur (antara jadi dan batal) -> urip 8
          => Gigis (sederhana) -> urip 9
          => Nohan (gembira) -> urip 3
          => Ogan (bingung) -> urip 7
          => Erangan (dendam) -> urip 1
          => Urungan (batal) -> urip 4
          => Tulus (langsung) -> urip 6
          => Dadi (jadi) -> urip 8

Dari Redite Sinta sampai Redite Dunggulan + 2, Soma Dunggulan +1, sebelum dibagi. selanjutnya rumus berlaku sebagai biasa.
Dasa wara ; (urip Pancawara + Urip Saptawara yang dicari + 1) : 10 = sisa
          => panditha(bijaksana) -> urip 5
          => Pati (dinamis) -> urip 7
          => Suka (periang) -> urip 10
          => Duka (jiwa seni / mudah tersinggung) -> urip 4
          => Sri (kewanitaan) -> urip 6
          => Manuh (taat / menurut) -> urip 2
          => manusia (sosial) -> urip 3
          => Eraja (kepemimpinan) -> urip 8
          =>dewa (berbudi luhur) -> urip 9
          => Raksasa (asura keras) -> urip 1

Dasawara berarti watak agung (karakter)
Watek Madia ; (urip Pancawara + Urip Saptawara yang dicari) : 5 = sisa
    => Gajah (besar) – hewan
    => Watu (kebal) – keras
    => Butha(tak nampak) – jerat
    => Suku (berkaki) – meja
    => Wong (orang) – pembantu
Watek Alit ; (urip Pancawara + Urip Saptawara yang dicari) : 4 = sisa
           => Uler (beranak banyak)
           => Gajah (besar)
           =>Lembu (kuat)
           => Lintah (kurus)

Panca Wara di Bhuwana Agung ini akan turun ke Bhawana dan memasuki segala kehidupan yang ada di muka Bumi, serta mengarah kepada yang lebih baik dan benar. Nah, khusus pengaruhnya setelah masuk ke dalam tubuh manusia ( Bhuwana Alit ), maka keberadaannya menjadi sebagai berikut :

1. Pengaruh Umanis ada pada sinar mata ( soca ), sebagai penglihatan.

2. Pengaruh Paing ada pada mulut, khususnya kepada inti ( guna dari ucapan ),

3. Pengaruh Pon ada pada daya serap telinga, sebagai pendengaran,

4. Pengaruh Wage ada pada guna hidung, penciuman ( penikmat bau ),

5. Pengaruh Kliwon ada pada daya guna olahan lidah ( pengatur ucapan ).

Istilah Wariga berasal dari bahasa Bali Kuna yang artinya Bintang. Dan makna Bintang yang dimaksud dalam konteks ini adalah Bintang Lima, yang terdiri dari :

1. Bintang Kartika dan

2. Bintang Uluku yang pada masa itu dipakai acuan sebagai Tengeran Sasih.

3. Bintang Siang yang saat ini dinamakan Bintang Timur, sebagai pertanda hari menjelang pagi.

4. Bintang Erang-erang sebagai pertanda hari menjelang malam.

5. Bintang Timbang dipakai sebagai tanda penunjuk arah Selatan, juga sebagai cermin untuk mengetahui Sang Waktu. Sejak dulu, Bintang ini dikatakan sebagai salah satu sumber kehidupan di Alam Langit yang memberi pengaruh ambek kepada manusia. Bintang pada waktu malam hari menciptakan kelembaban hawa ( udara ) yang berbeda-beda. Dan dengan intensitas kelembaban udara yang berbeda-beda inilah menjadi penyebab timbulnya pusaran angin. Atas dasar itu Panca Wara disebut juga Uriping Angin.

Perubahan ini diberi  Panca Gati, dengan penjelasan :

1. Perubahan dari Umanis menjadi Sang Shrigati, di mana Shri yang artinya keinginan, dan Gati artinya instan. Maksudnya, suatu keinginan yang bersifat instan. Jelasnya, keinginan yang muncul dan berasal dari pikiran umumnya bersifat revolusi – ingin selalu cepat ( instan ). Akibatnya, seseorang sering mengalami ketidakselarasan antara pola pikir dengan ucapan, mau pun perilaku.

2. Perubahan dari Paing menjadi Asuajag, merupakan keinginan yang selalu bersifat dinamis.

3. Perubahan dari Pwon menjadi Sang Empas, merupakan keinginan namun bersifat evolusi. Jadi, tidak seperti sifat Asuajag.

4. Perubahan dari Wage menjadi Sang Gumarang, artinya sifat membutuhkan, namun perubahannya tepat waktu sesuai dengan ukuran standar waktunya. Contoh, seorang petani akan menunggu hasil panennya sesuai dengan jenis yang ditanam, yang waktu panennya mutlak berbeda–beda.

5. Perubahan dari Keliwon menjadi Kala Kutila, adalah suatu keinginan untuk mendahului evolusi daripada alam. Misalnya mengakali dengan daya cipta yang tidak alami untuk memperdayakan menjadi sesuatu yang instan ( teknologi canggih ).

Pengaruh Panca Wara terhadap Watak Kelahiran
( Prewatekan manut Panca Wara )

Panca wara merupakan anugerah Dewata kepada kehidupan, khususnya manusia yang diberkahi unsur-unsur kesucian serta diberikan mandat berupa hak dan wewenang mengelola alam. Nah, akibat kesalahan di dalam mempertanggungjawabkan mandat sebagai manusia, maka ia terlahir kembali.

Terlahir pada dina :

1. Umanis, dinaungi Dewa Iswara, Rsi Kursika, Bhagawan Tetulak. Sesungguhnya, pada dina Umanis para Dewa telah secara adil memvibrasikan anugerah berupa daya guna (kemampuan) kepada manusia. Nah, justru karena anugerah tersebut tidak diberdayakan secara baik dan benar pada kehidupan yang lalu, maka dia terlahir kembali pada hari Umanis. Pembawaan watak Umanis di antaranya, sebagai tenaga penggerak (mobilisator ), suka memberi nasehat, namun jarang mampu menyadarkan orang lain.

2. Paing, diayomi Dewa Brahma, Rsi Gharga, Bhagawan Mercukunda. Dewa Brahma menganugerahkan Cipta kepada manusia. Seseorang yang terlahir pada waktu paing, jelas menandakan pada kehidupan yang lalu dia salah dalam menggunakan ciptanya, sehingga dia terbebani oleh ciptanya sendiri. Wataknya tidak pandang bulu, mudah dihasut dan diadu domba. Pembawaannya sering asal bunyi, tanpa mengetahui ujung pangkal permasalahannya.

3. Pon, diayomi Dewa Mahadewa, Rsi Maitri, Bhagawan Wrhaspati. Seseorang yang dilahirkan dina pwon, akibat pada kehidupan terdahulu dia bergulat dengan keimanannya, seperti ucapannya sering tidak selaras dengan kata hatinya. Wataknya kaku, kukuh dengan pendapatnya sendiri, meskipun sahabatnya salah, tetap akan dibelanya. Suka membuat susah sendiri dan boros. Pendengarannya sensitif, mudah tersulut emosinya. Kelakuannya kadang sulit diterka.

4. Wage, dinaungi Dewa Wisnu, Rsi Kurusya, Bhagawan Penyarikan. Kelahiran pada dina wage karena di masa lalu banyak keliru di dalam menempatkan kasihnya. Ibarat pohon kelapa yang ditanam di pekarangan sendiri, namun tumbuhnya miring, sehingga buahnya jatuh di tetangga. Terlahir dina wage, umumnya murah rejeki, namun tetap susah karena tidak bisa mengelolanya. Suka berulah dihadapan orang banyak, apalagi untuk menjatuhkan orang yang tidak disukainya. Sensitif dengan penciuman.

5. Kliwon, dinaungi Dewa Siwa, Rsi Prtanjala, Bhagawan Krtanjala. Seseorang yang terlahir dina kliwon menandakan di kehidupan terdahulu sering menyalahgunakan kebenaran budhinya, suka pilih kasih, atau kurang berlaku adil. Kekeliruan itulah yang menjadi pemicu terlahir kembali. Berwatak di antaranya suka penasaran, namun menjadi pembosan dan pemalas bila telah berhasil memenuhi rasa penasaran tersebut.

Panca wara di Bhuwana alit terletak di rongga dada, yakni :

· Umanis, terletak di pepusuh, terkait dengan tingkat kemampuan,

· Paing, terletak di Hati, sebagai tempat cipta,

· Pon, terletak di Ginjal, terkait dengan tingkat idealisme,

· Wage, terletak di Ampru ( nyali ) sebagai katalisator / penetralisir.

· Kliwon, terletak di Tungtunging hati, rumah dari sang buddhi luhur.

Berikut penjelasannya :

1. Sang Shrigati artinya santapan semua mahluk hidup. Khususnya pada manusia adalah santapan mata dan pikiran – Panca Karmendrya dan Panca Budindrya yang menikmati berkah Dewa Iswara.

2. Sang Asuajag adalah santapan perut, keinginan untuk menyantap makhluk yang berdarah untuk diolah menjadi tenaga.

3. Sang Empas adalah fisik – kesehatan, ingin santapan, ingin istirahat/tidur.

4. Sang Kala Gumarang, santapan untuk batin/jiwa, seperti kenyaman, kedamaian.

5. Sang Kala Kutila, rasa yang dikecap lidah yang memerlukan santapan. Kalau di dalam adalah Panca Bhudindrya yang menikmati.

Pengaruh Panca wara dan panca gati terhadap watak kelahiran dapat dipelajari, seperti penjabaran singkat berikut ini :

1. Terlahir pada dina Umanis, ketika Sang Shrigati turun memasuki Bumi, memiliki watak penuh kasih sayang dengan lingkungannya. Sebaliknya, kalau kedudukan Sang Shrigati munggah berada di Bhuwana, cenderung berwatak tidak peduli kasih sayang, egois, serta mengutamakan kepentingan pribadi, dan suka menceriterakan atau mencari-cari kesalahan orang lain.

2. Terlahir pada dina Paing, ketika Sang Asuajag turun berada di Bumi, cenderung suka membuat sakit hati orang lain, sering ditakuti di lingkungannya. Sedangkan kalau Sang Asuajag munggah berada di Bhuwana, dampaknya sering dicurigai atau kena fitnah, walaupun dia sesungguhnya dalam kondisi yang santun.

3. Terlahir dina Pon, saat Sang Empas turun berada di Bumi, umumnya menunjukkan sikap tidak senang atau kurang ramah, berwatak pendiam ( bodri, bahasa Bali ). Sebaliknya, bila Sang Empas munggah berada di Bhuwana, tabiatnya akan senang berceloteh, sering menjadi pemicu kemarahan orang lain, suka memfitnah. Suka iseng atau jahil agar temannya menjadi susah, padahal hal tujuannya sekedar bercanda.

4. Terlahir dina Wage, dan Sang Kala Gumarang turun berada di Bumi, tabiatnya suka merusak yang sudah baik dan benar, dan paling suka bikin onar. Sebaliknya, kalau Sang Kala Gumarang munggah berada di Bhuwana, orangnya berkharisma dan disegani orang lain, karena suka melindungi sesamanya.

5. Terlahir dina Kliwon dan Sang Kala Kutila turun berada di Bumi, karakternya senang mempelajari ilmu hitam, cenderung banyak berbuat dosa. Sebaliknya, jika Sang Kala Kutila munggah ada di Bhuwana, cenderung punya rasa dendam, namun sesungguhnya orang tersebut suka dengan kebaikan dan kebenaran.

Sapta wara di Bhuwana Agung secara kodrati selalu turun ke Bumi, memberi berkah kepada semua yang hidup (sarwa tumuwuh) :

1. Radite berada di bawah naungan Hyang Banu, memberi berkah kepada sarwa soca/sarwa mabuku.

2. Coma di bawah naungan Hyang Candra, memberi berkah kepada sarwa bungkah/umbi-umbian.

3. Anggara di bawah naungan Hyang Manggala, memberi berkah kepada sarwa daun.

4. Buda di bawah naungan Hyang Buda, memberi berkah kepada sarwa bunga.

5. Wraspati di bawah naungan Hyang Wraspati, memberi berkah kepada sarwa wija/Biji-bijian.

6. Sukra di bawah naungan Bhagawan Sukra, memberi berkah kepada sarwa buah.

7. Saniscara di bawah naungan Dewi Gori, memberi berkah kepada sarwa me-akah/turus.

fungsi pokoknya :

1. Radite ada pada Roma (rama rena, artinya lupa dan ingat),

2. Coma ada pada Banyu (cairan tubuh),

3. Anggara ada pada Laku (langkah),

4. Buda ada pada Rasa dan perasaan,

5. Wrhaspati ada pada Adegan (jelegan, sosok),

6. Sukra ada pada Untu (gigi), konotasinya Kala, yang berarti cerdas dan kuat.

7. Saniscara ada pada Cangkem, merupakan esensi dari Wacika.

Selain itu, Sapta wara yang masuk ke dalam diri manusia turut berperan membentuk jasmani dan rohani (lahir batin). Penjabarannya sebagai berikut :

1. Raditya/Redite, urip-nya 5, diayomi oleh Sanghyang Bhaskara. Raditya merupakan matahari yang masuk ke dalam diri manusia, menjadi : kedua mata yang ada di kepala, mata hati, dan mata batin (pandangan pikiran). Yang menjadi dasar pandangan tersebut, akibat dari mata melihat sesuatu, karena memikirkan, atau merasakan sesuatu. Di Bhuwana Agung, matahari merupakan mata dari hari, dan menerangi semesta. Sedangkan di dalam diri, mata hati yang menjadi suluh bagi Bhuwana alit. Seseorang yang terlahir pada dina redite/raditya sebagai akibat perilaku pada kehidupan terdahulu lebih banyak meniru dari apa yang dilihatnya. Bukannya dipelajari mau pun dihayati terlebih dahulu.

2. Soma, urip-nya 4, diayomi oleh Sanghyang Candra. Tindak lanjut dari suatu pandangan sebagai dasar untuk mengungkap, karena manusia punya kemampuan memandang. Dari apa yang dilihatnya, kemudian bisa diungkapkan melalui kata-kata, atau dengan perbuatan (karena keberadaan bayu). Semestinya semua itu diimbangi dengan suatu kesabaran, seperti sifat-sifat Sanghyang Candra itu sendiri sebagai simbol Dewi Kesabaran. Terlahir pada dina Soma, akibat perilaku di masa lalunya bersikap kurang sabar, baik dalam ucapan mau pun perbuatan. Itulah yang menjadi tuduh atas laku dan di-titah kembali ke marcapada.

3. Anggara, urip-nya 3, diayomi oleh Sanghyang Angkara. Anggara sesungguhnya adalah Rudra yang ada di Bhuwana Agung. Dan setelah masuk ke dalam diri manusia berubah menjadi Ludra, yakni panasnya darah yang dikendalikan oleh Angkara. Angkara sendiri sebagai penyebab amarah (naik darah). Akibat “tertuduh” karena ke-angkara murka-annya yang melingkupi kehidupannya di masa lalu, maka ia saat ini terlahir pada dina anggara.

4. Budha, urip-nya 7, diayomi oleh Sanghyang Udaka. Udaka artinya sila. Kelahiran seseorang pada dina Budha menandakan bahwa di masa lalunya ia lebih banyak berbuat tidak menuruti aturan, tidak tahu sopan santun.

5. Wrhaspati, urip-nya 8, diayomi oleh Sanghyang Sukra Guru. Guru dalam konteks ini merupakan suatu catatan dari pengalaman hidup yang pernah dilakoni. Saat ini terlahir pada dina wrhaspati karena dulunya ia tidak pernah belajar dari pengalaman hidupnya, dalam artian tidak mengindahkan nasehat gurunya.

6. Sukra, urip-nya 6, diayomi oleh Sanghyang Breghu. Sukra merupakan Bhagawan yang mempunyai wewenang sebagai pengatur sifat moha dan loba. Makanya Bhagawan Breghu dipakai simbol “ Dewa judi “. Jadi, sifat moha dan loba tersebut yang mengikatnya di masa lalu, sehingga pada kelahiran saat sekarang ini diberi kesempatan untuk memperbaikinya. Itulah yang melatarbelakangi seseorang dilahirkan pada dina sukra.

7. Saniscara, urip-nya 9, dewanya Sanghyang Wasu. Saniscara merupakan sifat Durga ( baik dan buruk ) yang dikendalikan oleh Wasu, dimana wasu merupakan bagian dari kedelapan dewa yang dikuasai oleh Dewa Wisnu. Terlahir pada dina saniscara lebih dikarenakan pada masa lalunya ia hidup dipenuhi gejolak suka dan duka ( labil ).

Watak Menurut Saptawàra Dan Pañcawàra

1.RADITE (MINGGU) PAHING
Urip/nêptu: 5 + 9 = 14
Lintang Gajah
Pelindungnya: 
· Sanghyang Bhàskara, Åûi Garga, Sanghyang Brahmà, Bhagawàn Mêrcukunda.

Wataknya:

· Pandai, perwira, banyak mempunyai anak. Rajin, tetapi sering melamun, termenung-menung.
· Mempunyai kemauan yang keras, bersemangat.
· Senang berdanapunia. Tidak senang kalau ada orang yang merendahkannya, menghinanya atau           melecehkannya.
· Kalau mengerjakan sesuatu yang penting sering tidak berhasil dengan baik.
· Laku bulan: artinya pandai mengerjakan apa saja, hidupnya senang, dicintai orang banyak.
· Halus budi pekertinya, tetapi kadang-kadang agak malas.
· Wiúeûa sàgara, artinya suka dan banyak memberi ampun/maaf.
· Lurus budinya, perasaannya dalam, besar pengaruhnya/wibawanya.
· Panjang pemikirannya.
· Pandai bicara dan mengerti akan atau tentang baik dan buruk.

2.SOMA (SENIN) PON
Urip/nêptu: 4 + 7 = 11
Lintang Kiriman
Pelindungnya:

· Sanghyang Soma (Candra), Åûi Maitrya, Sanghyang Mahàdewa, Bhagawàn Wrêspati.

Wataknya:
· Sering susah karena perbuatan orang lain.
· Mempunyai bakat bercocok tanam.
· Polos, sederhana dan jujur, setia, disayang orang banyak, tetapi tidak pintar sehingga sering    bersedih.
· Senang bersenda gurau dan senang mencari sahabat,
· Aras tuding: artinya gagah berani; suka menjual barang-barang miliknya sendiri, suka akan harta  benda orang lain, keinginannya sukar dikendalikan.
· Sumur sinaba: artinya suka memberi pertolongan, perilakunya lemah-lembut, penyayang,  dermawan, ikhlas beryajña (berkorban) dan berdanapunia.
· Dimanapun bertempat tinggal selalu menjadi tempat tujuan orang-orang untuk berguru menimba  ilmu pengetahuan.

3.ANGGARA (SELASA) WAGE
Urip/nêptu: 3 + 4 = 7
Lintang Jong Sarat
Pelindungnya:

· Sanghyang Angkàra, Åûi Kurusya, Sanghyang Wiûóu, Bhagawàn Panyarikan.

Wataknya:

· Banyak orang yang mendatanginya, senang membungakan uang, kekayaannya semakin lama  semakin berkurang.
· Rajin bekerja walaupun pekerjaannya itu berat apalagi pekerjaan yang ringan.
· Sebaiknya tidak mengerjakan pekerjaan yang sangat penting (sulit) karena akan menimbulkan  kesulitan kalau tidak berhati-hati.
· Senang berbohong dan tidak mau merendah, tidak tahu diri dan kurang setia kawan.
· Senang akan pembangunan dan suka bekerja.
· Laku bumi: artinya mempunyai pemikiran sederhana, tidak suka banyak bicara, tetapi suka  bersendagurau bersama anak-anak dan istri/suaminya.
· Lêbu katiup angin: artinya hatinya sering goncang terombang-ambing.
· Buruk keadaannya, kekurangan, lama hidup sengsara/menderita.
· Kurang sandang-pangan.
· Setiap keinginannya tidak mudah tercapai.
· Suka mengembara.

4.BUDHA (RABU) KLIWON
Urip/nêptu: 7 + 8 = 15
Lintang Atiwatiwa
Pelindungnya:

· Sanghyang Udaka, Åûi Kåtañjala, Sanghyang Úiwa, Sanghyang Widhi Wàúa.

Wataknya:

· Memiliki pikiran yang bersih, polos, sederhana, susila, senang menabung.
· Senang akan pembangunan.
· Rukun dalam berkeluarga (perkawinan), tetapi anak-anaknya meninggal pada saat lahir.
· Laku sùrya, artinya bertata susila, sopan santun, agak pemalu, banyak keinginannya, cerdas, luas    pengetahuannya, berwibawa.
· Lêbu katiup angin: artinya hatinya sering goncang terombang-ambing, buruk keadaannya,  kekurangan, lama hidup sengsara (menderita), kurang sandang pangan, setiap keinginannya tidak  mudah tercapai, suka mengembara.

5.WRASPATI (KAMIS) UMANIS
Urip/nêptu: 8 + 5 = 13
Lintang Sangka Tikêl
Pelindungnya:

· Sanghyang Guru (Úukra), Åûi Kursika, Sanghyang Ìúwara Bhagawàn Tatulak.

Wataknya:

· Murah hati, tidak kikir, tidak sayang akan harta bendanya.
· Tidak pilih-pilih.
· Pekerjaan apa saja yang dikerjakannya berhasil dengan baik.
· Mempunyai keberanian untuk bercakap-cakap mengemukakan pendapatnya dalam suatu pertemuan.
· Tetapi suka semaunya sendiri tidak peduli orang lain.
· Suka sewenang-wenang.
· Laku bintang: artinya halus perasaannya, tidak tahan berjaga/melek malam.
· Pandai bertutur kata.
· Cocok kalau berdagang.
· Suka memperhatikan segala hal apa saja.
· Ûatria wibhawa: artinya suka berterus terang berhadap-hadapan.
· Bisa memperoleh penghidupan yang menyenangkan serta kedudukan yang luhur.

6.ÚUKRA (JUMAT) PAHING
Urip/nêptu: 6 + 9 = 15
Lintang Bubu Bolong
Pelindungnya:

· Sanghyang Bågu, Åûi Garga, Sanghyang Brahmà, Bhagawàn Mêrcukunda.

Wataknya:
· Susila, senang bertapa, tetapi sifatnya pemalas.
· Baik/berbakat bercocok tanam, sedangkan pekerjaan yang lain sedikit hasilnya.
· Rajin, tetapi sering melamun, termenung-menung.
· Mempunyai kemauan yang keras.
· Cepat mendapat keuntungan (rejeki) tetapi cepat pula habisnya.
· Laku sùrya, artinya bertata susila, sopan santun, agak pemalu.
· Banyak keinginannya, cerdas, luas pengetahuannya, berwibawa.
· Tunggak sêmi: artinya berwatak angkuh, suka akan pertikaian, meskipun sudah disalahkan tetapi  masih tetap membantah.
· Tidak kurang rejekinya, walaupun diambil terus, tetapi akan datang (dapat) lagi.

7.ÚANIÚCARA (SABTU) PON 
Urip/nêptu: 9 + 7 = 16
Lintang Sungenge
Pelindungnya:

· Sanghyang Wasu. Åûi Maitrya, Sanghyang Mahàdewa, Bhagawàn Wrêspati.

Wataknya:
· Disayangi oleh orang besar (pembesar) dan hidupnya selamat/rahayu.
· Mempunyai pikiran yang baik/bersih, tetapi patut berhati-hati.
· Pandai sehingga dijadikan pengayoman.
· Senang bersenda gurau, dan senang mencari sahabat.
· Laku toya:, artinya kelak kemudian hari dapat jadi pemimpin.
· Pikirannya teguh dan tindakannya cekatan.
· Mempunyai pemikiran panjang/luas, tetapi kalau tidak dituruti kemauannya bisa menyebabkan  pertengkaran.
· Wiúeûa sàgara: artinya suka dan banyak memberi ampun/maaf, lurus budinya, perasaannya dalam,  besar pengaruhnya/wibawanya.
· Panjang pemikirannya.
· Pandai bicara dan mengerti tentang baik dan buruk.

8.RADITE (MINGGU) WAGE
Urip/nêptu: 5 + 4 = 9
Lintang Tênggala
Pelindungnya:

· Sanghyang Bhàskara, Åûi Kurusya. Sanghyang Wiûóu. Bhagawàn Panyarikan.

Wataknya:

· Sejak kecil sakit-sakitan, tetapi sesudah dewasa jadi baik/ sehat.
· Senang bertapabrata.
· Senang berdanapunia.
· Tidak suka kalau ada orang yang merendahkannya, menghinanya atau melecehkannya.
· Kalau mengerjakan sesuatu yang penting sering tidak berhasil dengan baik.
· Se­nang berbohong dan tidak mau merendah, tidak tahu diri dan kurang setia kawan.
· Senang akan pembangunan dan suka bekerja.
· Laku angin: arti­nya pendiam, tidak suka banyak bicara, berperilaku seperti paóðita, te­tapi suka  disanjung, sombong, dan pikirannya sering berubah.
· Ûatria Wibhawa: artinya suka berterus terang berhadap-hadapan.
· Memperoleh penghidupan yang menyenangkan serta kedudukan yang luhur.

9.SOMA (SENIN) KLIWON
Urip/nêptu: 4 + 8 = 12
Lintang Padati
Pelindungnya:

· Sanghyang Soma (Candra), Åûi Kåtañjala, Sanghyang Úiwa, Sanghyang Widhi Wàúa.

Wataknya:

· Berhasil menjadi kaya tetapi sering kemalingan.
· Mempunyai bakat bercocok tanam.
· Polos, sederhana dan jujur, setia, disayang orang banyak, tetapi tidak pintar sehingga sering  bersedih.
· Senang akan pembangunan.
· Aras kêmbang: artinya banyak punya anak, banyak saudara atau teman, dicintai orang banyak.
· Dengan mudah dapat memutus/menyelesaikan suatu perkara/masalah.
· Rajin bekerja dan dapat menyelesaikan pekerjaannya dengan baik.
· Ûatria wirang: artinya pemarah, kadang-kadang hatinya dingin, pemalu.
· Walaupun berbuat baik tetapi akhirnya jadi buruk juga.
· Kurang pengendalian diri.
· Selalu mendapat wirang (malu campur marah).

10.ANGGARA (SELASA) UMANIS
Urip/nêptu: 3 + 5 = 8
Lintang Kuda
Pelindungnya:

· Sanghyang Angkàra, Åûi Kursika, Sanghyang Ìúwara. Bhagawàn Tatulak.

Wataknya:

· Kaya tetapi sering sakit, senang memfitnah. Rajin bekerja walaupun pekerjaan itu berat apalagi kalau pekerjaan yang ringan.
· Sebaiknya tidak mengerjakan pekerjaan yang sangat penting (sulit) karena akan menimbulkan kesulitan kalau tidak berhati-hati.
· Mempunyai keberanian untuk bercakap-cakap mengemukakan pendapatnya dalam suatu pertemuan.
· Te­tapi suka semaunya sendiri tidak peduli orang lain.
· Suka sewenang-wenang.
· Laku api, artinya sering membuat keonaran, pemarah, suka mengungguli orang lain sehingga sering menimbulkan sakit hati.
· Wiúeûa sàgara: artinya suka dan banyak memberi ampun/maaf.
· Lurus budinya, perasaannya dalam, besar pengaruhnya/wibawanya.
· Panjang pemikirannya.
· Pandai bicara dan mengerti tentang baik dan buruk.

11.BUDHA (RABU) PAHING

Urip/nêptu: 7 + 9 = 16

Lintang Gajahmìna

Pelindungnya:

· Sanghyang Udaka, Åûi Garga, Sanghyang Brahmà, Bhagawàn Mêrcukunda.

Wataknya:

· Mendapat kebahagiaan karena anugerah Sanghyang Widhi Wàúa.

· Memiliki pikiran yang bersih, polos, sederhana, susila dan senang menabung.

· Rajin, tetapi senang melamun, termenung-menung.

· Mempunyai kemauan yang keras, bersemangat.

· Laku toya: artinya kelak kemudian hari dapat jadi pemimpin.

· Pikirannya teguh dan tindakannya cekatan.

· Mempunyai pemikiran panjang/luas, tetapi kalau tidak dituruti kemauannya bisa menyebabkan pertengkaran.

· Wiúeûa sàgara: artinya suka dan banyak memberi ampun/maaf.

· Lurus budinya, perasaannya dalam, besar pengaruhnya/wibawa­nya.

· Panjang pemikirannya.

· Pandai bicara dan mengerti tentang baik dan buruk.

12.WRASPATI (KAMIS) PON

Urip/nêptu: 8 + 7 = 15

Lintang Bade

Pelindungnya:

· Sanghyang Guru (Úukra), Åûi Maitrya, Sanghyang Mahàdewa, Bhagawàn Wrêspati.

Wataknya:

· Sejak kecil sakit-sakitan hampir-hampir meninggal.

· Murah hati, tidak kikir, tidak sayang akan harta bendanya.

· Tidak pilih-pilih. Pekerjaan apa saja yang dikerjakannya berhasil baik.

· Senang bersendagurau, senang mencari sahabat.

· Laku sùrya: artinya bertata susila, sopan santun, pemalu.

· Banyak keinginannya, cerdas, luas pengetahuannya, berwibawa.

· Ûatria wirang: artinya pemarah, kadang-kadang hatinya dingin.

· Walaupun sudah berbuat baik tetapi akhirnya jadi buruk juga.

· Kurang pengendalian diri.

· Selalu mendapat wirang (malu campur marah).

13.ÚUKRA (JUMAT) WAGE

Urip/nêptu: 6 + 4 = 10

Lintang Magêlut

Pelindungnya:

· Sanghyang Bågu, Åûi Kurusya, Sanghyang Wiûóu, Bhagawàn Panyarikan.

Wataknya:

· Selalu terlilit utang.

· Pada umumnya susila, senang bertapa, tetapi sifatnya pemalas.

· Baik/berbakat bercocok tanam, sedangkan pekerjaan yang lain sedikit hasilnya.

· Senang berbohong, dan tidak mau merendah, tidak tahu diri dan kurang setia kawan.

· Senang akan pembangunan, dan suka bekerja.

· Laku paóðita úakti, artinya berkemampuan tinggi atau úakti, cerdas, pandai, bijaksana, mampu menjadi balian/tabib.

· Ahli sastra (satrawan), tetapi kadang-kadang ia berpikiran sombong.

· Sumur sinaba: artinya suka memberi pertolongan, perilakunya lemah lembut, penyayang dan dermawan, ikhlas beryajña (berkorban) dan berdanapunia.

· Dimanapun ia bertempat tinggal selalu menjadi tempat tujuan orang-orang untuk berguru menimba ilmu pengetahuan dan minta pertolongan

14.ÚANIÚCARA (SABTU) KLIWON

Urip/nêptu: 9 + 6 = 17

Lintang Pagêlangan

Pelindungnya:

· Sanghyang Wasu, Åûi Kåtañjala, Sanghyang Úiwa. Sanghyang Widhi Wàúa.

Wataknya:

· Selalu menanggung kesedihan (susah) sejak mulai kawin (berumah tangga), kemudian hari ditinggalkan oleh anaknya.

· Mempunyai pikiran yang baik/bersih, tetapi patut berhati-hati.

· Pandai sehingga dijadikan pengayoman. Senang akan pembangunan.

· Laku prêtiwi: artinya mempunyai pemikiran sederhana, tidak suka banyak bicara, tetapi suka bersenda gurau bersama anak-anak dan isterinya atau suaminya.

· Tunggak sêmi: artinya sifatnya angkuh, suka akan pertikaian, meskipun sudah disalahkan tetapi masih tetap membantah.

· Tidak kurang rejekinya, walaupun diambil berkali kali tetapi tetap ada datang lagi.


15.RADITE (MINGGU) UMANIS

Urip/nêptu: 5 + 5 = 10

Lintang Kàla Sungsang

Pelindungnya:

· Sanghyang Bhàskara. Åûi Kursika, Sanghyang Ìúwara. Bhagawàn Tatulak.

Wataknya:

· Sedikit bicaranya, tidak mau memperhatikan atau menurut nasehat orang, sering salah menafsirkan perkataan orang (salah menerima perkataan orang), senang tidak mau menurut atau berbeda pendapat dengan gurunya.

· Senang berdanapunia.

· Tidak suka kalau ada orang yang merendahkannya, menghinanya atau melecehkannya.

· Kalau mengerjakan sesuatu yang penting, tidak berhasil dengan baik.

· Mempunyai keberanian untuk bercakap-cakap mengemukakan pendapatnya dalam suatu pertemuan.

· Tetapi suka semaunya sendiri tidak peduli orang lain, suka sewenang-wenang. Laku paóðita úakti, artinya berkemampuan tinggi (úakti), cerdas, pandai, bijaksana, mampu menjadi balian (tabib).

· Ahli sastra (sastrawan), tetapi kadang-kadang ia berpikiran sombong.

· Sumur sinaba: artinya suka memberi pertolongan, perilakunya lemah-lembut, penyayang dan dermawan, ikhlas beryajña (berkorban) dan berdanapunia.

· Dimanapun bertempat tinggal selalu menjadi tempat tujuan orang-orang untuk berguru menimba ilmu pe ngetahuan dan minta pertolongan.

16.SOMA (SENIN) PAHING

Urip/nêptu: 4 + 9 = 13

Lintang Kukus

Pelindungnya:

· Sanghyang Soma (Candra), Åûi Garga, Sanghyang Brahmà, Bhagawàn Mêrcukunda.

Wataknya:

· Mempunyai bakat bercocok tanam. Polos, sederhana dan jujur, setia, disayang orang banyak, tetapi tidak pintar sehingga sering bersedih.

· Rajin, tetapi sering melamun, termenung-menung.

· Mempunyai kemauan yang keras, bersemangat.

· Laku bintang: artinya halus perasaannya, tidak tahan berjaga (tidak tidur) malam.

· Pandai bertutur kata.

· Cocok kalau berdagang.

· Suka memperhatikan segala hal apa saja.

· Wiúeûa sàgara: artinya suka dan banyak memberi ampun/maaf.

· Lurus budinya, perasaannya dalam, besar pengaruhnya/wibawanya.

· Panjang pemikirannya.

· Pandai bicara dan mengerti tentang baik dan buruk.

17.ANGGARA (SELASA) PON

Urip/nêptu: 3 + 7 = 10

Lintang Asu

Pelindungnya:

· Sanghyang Angkàra, Åûi Maitrya, Sanghyang Mahàdewa, Bhagawàn Wrêspati.

Wataknya:

· Jantan (kesatria), pemberani dalam pertempuran, disenangi orang banyak.

· Rajin bekerja walaupun pekerjaan itu berat, apalagi pekerjaan yang ringan. Sebaiknya tidak mengerjakan pekerjaan yang sangat penting (sulit) karena akan menimbulkan kesulitan kalau tidak berhati-hati.

· Senang bersenda gurau, dan senang mencari sahabat.

· Laku paóðita úakti: artinya berkemampuan tinggi (úakti), cerdas, pandai, bijaksana, mampu menjadi balian (tabib).

· Ahli sastra (sastrawan), tetapi kadang-kadang ia berpikiran sombong.

· Ûatria wibhawa: artinya suka berterus terang berhadap-hadapan.

· Memperoleh penghidupan yang menyenangkan dan ke dudukan yang luhur.


18.BUDHA (RABU) WAGE

Urip/nêptu: 7 + 4 = 11

Lintang Kàrtika

Pelindungnya:

· Sanghyang Udaka, Åûi Kurusya, Sanghyang Wiûóu. Bhagawàn Panyarikan.

Wataknya:

· Selamat dan sentausa. Memiliki pikiran yang bersih, polos, sederhana, susila dan senang menabung.

· Tetapi senang berbohong, tidak mau merendah, tidak tahu diri, kurang setia kawan.

· Senang akan pembangunan dan suka bekerja.

· Aras tuding: artinya gagah berani, suka menjual barang-barang miliknya sendiri, tetapi suka akan harta benda orang lain, keinginannya sukar dikendalikan.

· Ûatria wibhawa: artinya suka berterusterang berhadap-hadapan.

· Memperoleh penghidupan yang menyenangkan serta memperoleh kedudukan yang luhur.

19.WRASPATI (KAMIS) KLIWON

Urip/nêptu: 8 + 8 = 16

Lintang Nàga

Pelindungnya:

· Sanghyang Guru (Úukra), Åûi Kåtañjala, Sanghyang Úiwa, Sanghyang Widhi Wàúa.

Wataknya:

· Suka berlagak pintar, besar omong (sombong).

· Tetapi murah hati, tidak kikir, tidak sayang akan harta-bendanya.

· Tidak pilih-pilih.

· Pekerjaan apa saja yang dikerjakannya berhasil baik.

· Senang akan pembangunan. Laku toya, artinya kelak kemudian hari dapat jadi pemimpin.

· Pikirannya teguh dan tindakannya cekatan.

· Mempunyai pemikiran panjang/luas, tetapi kalau tidak dituruti kemauannya bisa menyebabkan pertengkaran.

· Bumi kapêtak: artinya tidak suka bepergian jauh, teguh pada pendiriannya, rajin bekerja, teguh melaksanakan tugas, punya keinginan menyepi.

· Budinya suci bersih, mengerti akan semua pekerjaan.

20.ÚUKRA (JUMAT) UMANIS

Urip/nêptu: 6 + 5 = 11

Lintang Banyak Angêrêm

Pelindungnya:

· Sanghyang Bågu, Åûi Kursika, Sanghyang Ìúwara, Bhagawàn Tatulak.

Wataknya:

· Mendapat banyak harta kekayaan tetapi cepat habis karena boros dan karena ada yang mencurinya.

· Sifatnya susila, senang bertapa, tetapi agak pemalas.

· Baik/berbakat bercocok tanam, sedangkan pekerjaan yang lain sedikit hasilnya.

· Mempunyai keberanian untuk bercakap-cakap mengemukakan pendapatnya dalam suatu pertemuan.

· Tetapi suka semaunya sendiri tidak peduli orang lain.

· Suka sewenang-wenang.

· Aras tuding: artinya gagah berani.

· Suka menjual barang-barang miliknya sendiri, teta­pi ia suka akan harta benda orang lain, keinginannya sukar dikendalikan.

· Ûatria wirang: artinya pemarah, kadang-kadang hatinya dingin, pemalu.

· Walaupun berbuat baik tetapi akhirnya jadi buruk juga.

· Kurang pengendalian diri. Selalu mendapat wirang (malu campur marah).

21.ÚANIÚCARA (SABTU) PAHING

Urip/nêptu: 9 + 9 = 18

Lintang Panah

Pelindungnya:

· Sanghyang Wasu, Åûi Garga, Sanghyang Brahmà, Bhagawàn Mêrcukunda.

Wataknya:

· Bersifat prajurit berani dan patuh, disayang dan dihormati oleh pengikutnya (bawahannya).

· Mempunyai pikiran yang baik/bersih, tetapi patut berhati-hati.

· Pandai sehingga dijadikan pengayoman.

· Rajin, tetapi sering melamun, termenung-menung.

· Mempunyai kemauan yang keras, bersemangat.

· Laku agni agung: artinya sering membuat keonaran, pemarah, suka mengungguli orang lain sehingga sering menimbulkan rasa sakit hati.

· Ûatria wibawa: suka berterus terang berhadap-hadapan.

· Memperoleh penghidupan yang menyenangkan dan memperoleh kedudukan yang luhur.

22.RADITE (MINGGU) PON

Urip/nêptu: 5 + 7 = 12

Lintang Patrêm

Pelindungnya:

· Sanghyang Bhàskara, Åûi Maitrya, Sanghyang Mahàdewa, Bhagawàn Wrêspati.

Wataknya:

· Senang berdebat (bertukar pikiran).

· Senang berdana punia.

· Tidak senang kalau ada orang yang merendahkannya, menghinanya atau melecehkannya.

· Kalau mengerjakan sesuatu yang penting tidak berhasil baik.

· Senang bersenda gurau, dan senang mencari sahabat.

· Aras kêmbang, artinya banyak anaknya, banyak saudara atau temannya, dicintai orang banyak.

· Dengan mudah ia dapat memutus atau menyelesaikan suatu perkara/masalah.

· Rajin bekerja dan dapat menyelesaikan pekerjaannya dengan baik.

· Bumi kapêtak: artinya tidak suka bepergian jauh, teguh pada pendiriannya, rajin bekerja, teguh melaksanakan tugasnya, punya keinginan menyepi.

· Budinya suci bersih, mengerti akan semua pekerjaan.

23.SOMA (SENIN) WAGE

Urip/nêptu: 4 + 4 = 8

Lintang Lêmbu

Pelindungnya:

· Sanghyang Soma (Candra), Åûi Kurusya. Sanghyang Wiûóu. Bhagawàn Panyarikan.

Wataknya:

· Sejak kecil hidupnya sengsara.

· Mempunyai bakat bercocok tanam, polos, sederhana dan jujur, setia, disayang orang banyak, tetapi tidak pintar sehingga sering bersedih.

· Senang berbohong dan tidak suka merendah, tidak tahu diri dan kurang setia kawan.

· Senang akan pembangunan dan suka bekerja. Laku api, artinya sering membuat keonaran, pemarah, suka mengungguli orang lain sehingga sering menimbulkan sakit hati.

· Wiúeûa sàgara: artinya suka dan banyak memberi ampun/maaf.

· Lurus budinya, perasaannya dalam, besar pengaruhnya/wibawanya.

· Panjang pemikirannya.

· Pandai bicara dan mengerti tentang baik dan buruk.

24.ANGGARA (SELASA) KLIWON

Urip/nêptu: 3 + 8 = 11

Lintang Sidamalung

Pelindungnya:

· Sanghyang Angkàra, Åûi Kåtañjala, Sanghyang Úiwa. Sanghyang Widhi Wàúa.

Wataknya:

· Rajin bekerja walaupun pekerjaan itu berat apalagi pekerjaan yang ringan.

· Sebaiknya tidak mengerjakan pekerjaan yang sangat penting (sulit) karena akan menimbulkan kesulitan kalau tidak berhati-hati.

· Senang akan pembangunan.

· Aras tuding, artinya gagah berani, suka menjual barang-barang miliknya sendiri, tetapi ia suka akan harta benda orang lain, keinginannya sukar dikendalikan.

· Sumur sinaba, artinya suka memberi pertolongan, perilakunya lemah-lembut, penyayang dan dermawan, ikhlas beryajña (berkorban) dan berdana punia.

· Dimanapun ia bertempat tinggal selalu menjadi tempat tujuan orang-orang untuk berguru menimba ilmu pengetahuan dan untuk minta pertolongan.

25.BUDHA (RABU) UMANIS

Urip/nêptu: 7 + 5 = 12

Lintang Tangis

Pelindungnya:

· Sanghyang Udaka, Åûi Kursika, Sanghyang Ìúwara, Bhagawàn Tatulak.

Wataknya:

· Hidupnya sengsara karena hak miliknya direbut oleh orang lain.

· Memiliki pemikiran yang bersih, polos, sederhana, susila dan senang menabung.

· Mempunyai keberanian untuk bercakap-cakap mengemukakan pendapatnya dalam suatu pertemuan.

· Tetapi suka suka semaunya sendiri tidak peduli orang lain.

· Suka sewenang-wenang.

· Aras kêmbang: artinya banyak anak, banyak saudara atau teman, dicintai orang banyak.

· Dengan mudah dapat memutus/menyelesaikan suatu perkara/masalah.

· Rajin bekerja dan dapat menyelesaikan pekerjaannya dengan baik.

· Sumur sinaba: artinya suka memberi pertolongan, perilakunya lemah-lembut, penyayang dan dermawan, ikhlas beryajña (berkorban) dan berdana punia.

· Dimanapun ia bertempat tinggal selalu menjadi tempat tujuan orang-orang untuk berguru menimba ilmu pengetahuan dan untuk minta pertolongan.

26.WRASPATI (KAMIS) PAHING

Urip/nêptu: 8 + 9 = 17

Lintang Salah Ukur

Pelindungnya:

· Sanghyang Guru (Úukra), Åûi Garga. Sanghyang Brahmà. Bhagawan Mêrcukunda.

Wataknya:

· Senang bertengkar (membantah), pemboros, kurang perhatian akan sesuatu hal atau situasi sekelilingnya.

· Murah hati, tidak kikir, tidak sayang akan harta bendanya.

· Tidak pilih-pilih. Pekerjaan apa saja yang dikerjakannya berhasil baik.

· Rajin, tetapi sering melamun, termenung-menung.

· Mempunyai kemauan yang keras, bersemangat.

· Laku prêtiwi: artinya mempunyai pemikiran sederhana, tidak suka banyak bicara, tetapi suka bersenda-gurau bersama anak-anak dan isterinya atau suaminya.

· Lêbu katiup angin, artinya hatinya sering goncang terombang-ambing.

· Buruk keadaannya, kekurangan, lama hidup sengsara (menderita).

· Kurang sandang pangan.

· Setiap keinginannya tidak mudah tercapai.

· Suka mengembara.

27.ÚUKRA (JUMAT) PON

Urip/nêptu: 6 + 7 = 13

Lintang Pêrahu Pêgat

Pelindungnya:

· Sanghyang; Bågu, Åûi Maitrya. Sanghyang Mahàdewa, Bhagawàn Wrêspati.

Wataknya:

· Salah satu suami atau istri yang meninggal.

· Boros kalau berbelanja sehingga menyebabkan sedih.

· Susila, senang bertapa, tetapi sifatnya pemalas.

· Baik/berbakat bercocok tanam, sedangkan pekerjaan yang lain sedikit hasilnya.

· Senang bersenda-gurau, dan senang mencari sahabat.

· Laku bintang, artinya halus perasaannya, tidak tahan berjaga atau tidak tidur di malam hari.

· Pandai bertutur kata.

· Cocok kalau berdagang.

· Suka memperhatikan segala hal apa saja.

· Lêbu katiup angin: artinya hatinya sering goncang terombang-ambing.

· Buruk keadaannya, kekurangan, lama hidup sengsara (menderita).

· Kurang sandang-pangan.

· Setiap keinginannya tidak mudah tercapai. Suka mengembara.

28.ÚANIÚCARA (SABTU) WAGE

Urip/nêptu: 9 + 4 = 13

Lintang Puwuh Atarung

Pelindungnya:

· Sanghyang Wasu, Åûi Kurusya, Sanghyang Wiûóu, Bhagawàn Panyarikan.

Wataknya:

· Senang membuat keributan (pertengkaran), senang membantah / menolak hal yang benar.

· Kaya tetapi kikir sehingga menyebabkan berdosa.

· Mempunyai pikiran yang baik/bersih, tetapi patut berhati-hati.

· Pandai sehingga dijadikan pengayoman.

· Senang berbohong, dan tidak mau merendah, tidak tahu diri, dan kurang setia kawan.

· Senang akan pembangunan dan suka bekerja.

· Laku bintang: artinya halus perasaannya, tidak tahan berjaga (tidak tidur) di malam hari.

· Pandai bertutur kata.

· Cocok kalau berdagang.

· Suka memperhatikan segala hal apa saja.

· Ûatria wirang: arti nya pemarah, kadang-kadang hatinya dingin, pemalu.

· Walaupun berbuat baik tetapi akhirnya jadi buruk juga.

· Kurang pengendalian diri.

· Selalu mendapat wirang (malu campur marah).

29.RADITE (MINGGU) KLIWON

Urip/nêptu: 5 + 8 = 13

Lintang Lawean

Pelindungnya:

· Sanghyang Bhàskara. Åûi Kåtañjala. Sanghyang Úiwa. Sanghyang Widhi Wàúa.

Wataknya:

· Senang membantah/menyangkal petuah, suka berjudi, senang bertingkah tidak baik.

· Senang berdana punia.

· Tidak suka kalau ada orang yang merendahkannya, menghinanya atau melecehkannya.

· Kalau mengerjakan sesuatu yang penting, tidak berhasil dengan baik.

· Senang akan pembangunan.

· Laku bintang, artinya halus perasaannya, tidak tahan berjaga (ti­dak tidur) di malam hari.

· Pandai bertutur kata.

· Cocok kalau berdagang.

· Suka memperhatikan segala hal apa saja. Lêbu katiup angin, artinya hatinya sering goncang terombang-ambing.

· Buruk keadaannya, kekurangan, lama hidup sengsara (menderita).

· Kurang sandang-pangan.

· Setiap keinginannya tidak mudah tercapai.

· Suka mengembara.

30.SOMA (SENIN) UMANIS

Urip/nêptu: 4 + 5 = 9

Lintang Kêlapa

Pelindungnya:

· Sanghyang Soma (Candra), Åûi Kursika, Sanghyang Ìúwara, Bhagawàn Tatulak.

Wataknya:

· Bisa menjadi kaya karena berjualan tuak, kelapa.

· Bisa menemukan keselamatan.

· Mempunyai bakat bercocok tanam.

· Polos, sederhana dan jujur, setia, disayang orang banyak, tetapi tidak pintar sehingga sering bersedih.

· Mempunyai keberanian untuk bercakap-cakap mengemukakan pendapatnya dalam suatu pertemuan.

· Tetapi suka semaunya sendiri tidak peduli orang lain.

· Suka sewenang-wenang.

· Laku angin, artinya pendiam, tidak suka banyak bicara, berperilaku seperti paóðita, tetapi suka disanjung, sombong, dan pikirannya sering berubah.

· Tunggak sêmi. artinya angkuh, suka akan pertikaian, meskipun sudah disalahkan tetapi masih tetap membantah.

· Tidak kurang rejekinya, walau diambil tetap ada yang masuk lagi.

31.ANGGARA (SELASA) PAHING

Urip/nêptu: 3 + 9 = 12

Lintang Yuyu

Pelindungnya:

· Sanghyang Angkàra, Åûi Garga, Sanghyang Brahmà. Bhagawàn Mêrcukunda.

Wataknya:

· Mempunyai pendirian yang kuat dan tetap (mantap), mempunyai pengharapan (keinginan), dan senang bekerja.

· Rajin bekerja walaupun pekerjaan itu berat, apalagi pekerjaan yang ringan.

· Sebaiknya tidak mengerjakan pekerjaan yang sangat penting (sulit) karena akan menimbulkan kesulitan kalau tidak berhati-hati.

· Rajin, tetapi sering melamun, termenung-menung.

· Mempunyai kemauan yang keras, bersemangat.

· Aras kêmbang: artinya banyak anak, banyak saudara atau teman, dicintai orang banyak.

· Dengan mudah dapat memutus/menyelesaikan suatu perkara/masalah.

· Rajin bekerja dan dapat menyelesaikan pekerjaannya dengan baik.

· Ûatria wirang: artinya pemarah, kadang-kadang hatinya dingin, pemalu.

· Walaupun berbuat baik tetapi akhirnya jadi buruk juga.

· Kurang pengendalian diri.

· Selalu mendapat wirang (malu campur marah).

32.BUDHA (RABU) PON

Urip/nêptu: 7 + 7 = 14

Lintang Lumbung

Pelindungnya:

· Sanghyang Udaka, Åûi Maitrya, Sanghyang Mahàdewa. Bhagawàn Wrêspati,

Wataknya:

· Bisa menjadi kaya raya apabila pandai menguasahakannya.

· Memiliki pikiran yang bersih, polos, sederhana, susila.

· Senang menabung.

· Teguh pada pendiriannya.

· Rajin bekerja, teguh melaksanakan tugas.

· Punya keinginan menyepi.

· Budinya suci bersih, mengerti akan semua pekerjaan.

· Se­nang bersenda-gurau, dan senang mencari sahabat.

· Laku bulan: artinya pandai mengerjakan apa saja, hidupnya senang, dicintai orang banyak, halus budi pekertinya, tetapi agak malas.

· Bumi kapêtak: artinya tidak suka bepergian jauh.

33.WRASPATI (KAMIS) WAGE

Urip/nêptu: 8 + 4 = 12

Lintang Kumba

Pelindungnya:

· Sanghyang Guru (Úukra), Åûi Kurusya, Sanghyang Wiûóu. Bhagawàn Panyarikan.

Wataknya:

· Panjang umur, pandai, rajin bekerja. Murah hati, tidak kikir, tidak sayang akan harta bendanya.

· Tidak pilih-pilih.

· Pekerjaan apa saja yang dikerjakannya berhasil baik.

· Senang berbohong dan tidak mau merendah, tidak tahu diri dan kurang setia kawan.

· Senang akan pembangunan dan suka bekerja.

· Dengan mudah dapat memutus/menyelesaikan suatu perkara/masalah.

· Rajin bekerja dan dapat menyelesaikan pekerjaannya dengan baik.

· Aras kêmbang: artinya banyak anak, banyak saudara atau teman, dicintai orang banyak.

· Tunggak sêmi: artinya angkuh, suka akan pertikaian, meskipun sudah disalahkan tetapi masih tetap membantah.

· Rejekinya tidak sedikit, walaupun sudah banyak diambil/dipakai tetapi masih tetap ada dan masih banyak yang masuk.

34.ÚUKRA (JUMAT) KLIWON

Urip/nêptu: 6 + 8 = 14

Lintang Udang

Pelindungnya:

· Sanghyang Bågu, Åûi Kåtañjala, Sanghyang Úiwa, Sanghyang Widhi Wàúa.

Wataknya:

· Waktu masih kecil sakit-sakitan, tetapi sesudah dewasa jadi rahayu (selamat, sehat).

· Susila, senang bertapa, tetapi sifatnya pemalas.

· Baik/berbakat bercocok tanam, sedangkan pekerjaan yang lain sedikit hasilnya.

· Senang akan pembangunan.

· Halus budi pekertinya, tetapi agak malas.

· Lurus budinya, dalam perasaannya, besar pengaruhnya/wibawanya.

· Panjang pemikirannya.

· Pandai bicara dan mengerti tentang baik dan buruk.

· Laku bulan: artinya pandai mengerjakan apa saja, hidupnya senang, dicintai orang banyak.

· Wiúeûa sàgara: artinya suka dan banyak memberi ampun/maaf.

35.ÚANIÚCARA (SABTU) UMANIS

Urip/nêptu: 9 + 5 = 14

Lintang Bêgoong

Pelindungnya:

· Sanghyang Wasu, Åûi Kursika, Sanghyang Ìúwara, Bhagawàn Tatulak.

Wataknya:

· Didalih/disangka berperilaku jahat, walaupun sebenarnya berperilaku baik/benar.

· Mempunyai pikiran yang baik/bersih, tetapi patut berhati-hati.

· Pandai sehingga dijadikan pengayoman.

· Mempunyai keberanian untuk bercakap-cakap mengemukakan pendapatnya dalam suatu pertemuan.

· Tetapi suka semaunya sendiri tidak peduli orang lain.

· Laku bulan: artinya pandai mengerjakan apa saja, hidupnya senang, dicintai orang-banyak.

· Halus budi pekertinya, tetapi agak malas.

· Bumi kapêtak: arti­nya tidak suka bepergian jauh, teguh pada pendiriannya, rajin bekerja, teguh melaksanakan tugas, punya keinginan menyepi.

· Budinya suci bersih mengerti akan semua pekerjaan.

1. Perjodohan Berdasarkan Sapta Wara
Caranya, cari terlebih dahulu hari atau dina kelahiran lanang (laki-laki) dan wadon(perempuan), dan sesuaikan hasilnya dengan data di bawah ini :

Minggu - Minggu berakibat sering sakit-sakitan
Senin-Senin berakibat buruk
Selasa-Selasa berakibat buruk
Rabu-Rabu berakibat buruk
Kamis-Kamis berakibat yuana (awet), senang
Jumat-Jumat berakibat melarat
Sabtu-Sabtu berakibat yuana, senang
Minggu-Senin berakibat banyak penyakit
Minggu - Selasa berakibat melarat
Minggu- Rabu berakibat yuana, senang
Minggu-Kamis berakibat konflik
Minggu-Jumat berakibat yuana, senang
Minggu-Sabtu berakibat melarat
Jumat-Sabtu berakibat celaka
Senen-Selasa berakibat yuana (rupawan), senang
Senen-Rabu berakibat beranak wadon (perempuan)
Senen Kamis berakibat disukai orang
Senen-Jumat berakibat yuana, senang
Senen-Sabtu berakibat rezekian
Selasa-Rabu berakibat kaya
Selasa-Kamis berakibat kaya
Selasa-Jumat berakibat pisah/cerai
Selasa-Sabtu berakibat sering konflik
Rabu-Kamis berakibat yuana, senang
Rabu-Jumat berakibat yuana, senang
Rabu-Sabtu berakibat baik
Kamis-Jumat berakibat yuana, senang
Kamis-Sabtu berakibat pisah/cerai

2. Jodoh berdasar Gabungan Neptu Panca Wara dan Sapta Wara

Perhitungan dengan cara gabungan atau jumlah neptu (urip) Panca Wara dan Sapta Wara laki dan perempuan, kemudian dibagi 5. Dan sisa menujukan pengaruh yang ditimbulkan dari perjodohan.
Sisa 1 : SRI, berarti rumah tangga beroleh rezeki
Sisa 2 : DANA, berarti rumah tangga keadaan keuangan baik
Sisa 3 :LARA berarti anggota rumah tangga dalam kesusahan atau kesakitan
Sisa 4 : PATI berarti kesengsaran, mungkin bisa menemui kematian atau kehilangan rezeki
Habis dibagi : LUNGGUH, berarti akan mendapatkan kedudukan.
3. Berdasarkan Jumlah Seluruh Neptu Dibagi Empat
Jumlah neptu Pancawara dan Sapta Wara Lanang di jumlah dengan Panca Wara dan Sapta Wara Wadon, kemudian dibagi 4, dan sisa menunjukan pengaruh yang ditimbulkan dari perjodohan sebagai berikut :
Sisa 1 disebut GENTO berarti jarang anak
Sisa 2 disebut PATI berarti banyak anak
Sisa 3 disebut SUGIH berarti banyak rezeki
Habis di bagi disebut PUNGGEL berarti kehilangan rezeki, cerai atau mati

3.Jodoh berdasarkan Tri Premana

Petemon (pertemuan) laki-perempuan yang bernama Tri Premana ini didasarkan atas perhitungan jumlah neptu Panca Wara ditambah Sad Wara ditambah Sapta Wara dari weton (kelahiran) di pihak laki dan perempuan lalu di bagi 16 (enam belas) dan sisa dari pembagian memiliki makna sebagai berikut :

Sisa 1 bermakna diliputi kebimbangan, dalam keadaan suka dan duka, baik buruk, sehingga dituntut ketabahan.
Sisa 2 bermakna durlaba, rezeki seret, tapi suka melancong
Sisa 3 bermakna sering mendapat malu dan kecewa
Sisa 4 bermakna susah mendapatkan sentana (keturunan)
Sisa 5 bermakna merana, sering sakit
Sisa 6 bermakna merana sering sakit
Sisa 7 bermakna mengalami suka duka, baik buruk dalam perjalanan hidupnya menuju bahagia.
Sisa 8 bermakna sukar untuk memenuhi hajat hidupnya sehari-hari, bahkan sampai kekurangan (terak).
Sisa 9 bermakna kurang hati-hati, kesakitan tak henti-hentinya mewarnai hidupnya, sampai menimbulkan kekecewaan dan penyesalan hidup.
Sisa 10 bermakna mendapatkan wibawa serta disegani bagaikan raja/ratu yang berkuasa, sehingga dapat mengayomi keluarga.
Sisa 11 bermakna mendapat sukses dalam perjalanan hidup, tercapai citacitanya penuh kepuasan (sidha serta sabita).
Sisa 12 bermakna sedana nulus, rezeki lancar/gampang.
Sisa 13 bermakna dirgayusa, panjang umur, rezekinya berkepanjangan.
Sisa 14 bermakna mendapatkan kebahagiaan/kesenangan selalu.
Sisa 15 bermakna sering mengalami kesusahan, keadaan buruk serta banyak problem.
Sisa 16 bermakna memperoleh kebahagiaan dan kesenangan

Berikut ini akan diuraikan beberapa dewasa ayu untuk upacara Manusa Yajña (pewiwahan)
Mertha Yoga : Upacara untuk Manusa Yajña. Yang termasuk ke dalam Merta Yoga yaitu; Soma Keliwon Landep, Soma Umanis Taulu, Soma Wage Medangsia, Soma Umanis Medangkungan, Soma Paing Menail, Soma Pon Ugu, Soma Wage Dukut.

2. Baik Buruknya Sapta Wara untuk upacara Pewiwahan

Minggu : Buruk, sering terjadi pertengkaran, dapat berakibat pertengkaran
Senin : Baik mendapat keselamatan dan kesenangan
Selasa : Buruk, suka berbantah, masing-masing tidak mau mengalah
Kamis : Baik hidup rukun, senang dan disenangi orang
Jumat : Baik, tentram sentosa, tak kurang sandang pangan
Sabtu : Sangat buruk, senantiasa dalam kesusahan

3. Baik Buruknya Penanggal /Tanggal untuk upacara Perkawinan

Tanggal 1 Dirgahayu, sejahtera
Tanggal 2 Sidha cita, Sidha karya, disayang keluarga
Tanggal 3 Memperoleh banyak anak, sentana
Tanggal 4 Suami sering sakit
Tanggal 5 Dirgahayu, dirgayusa, selamat, sejahtera dan panjang umur
Tanggal 6 Menemui kesusahan
Tanggal 7 Suka, rahayu, hidup bahagia
Tanggal 8 Sering sakit hampir meninggal
Tanggal 9 Senantiasa sengsara
Tanggal 11 Kurang ulet berkarya, penghasilan kurang
Tanggal 12 Mendapat kesusahan
Tanggal 13 labha bhukti, mendapat keberuntungan, terutama menyangkut pangan kinum
Tanggal 14 Sering berbantah, kemungkinan bisa sampai cerai
Tanggal 15 Sangat buruk, bisa menemui kesengsaraan

4. Baik Buruknya Sasih hubungannya dengan upacara wiwaha (upacara pernikahan)
Kasa, (Srawana - Juli) : buruk anak-anaknya menderita
Karo, (Bhadrawada - Agustus) : buruk sangat miskin
Ketiga, (Asuji - September) : Sedang banyak anak-anak
Kapat, ( Kartika - Oktober) : baik, kaya dicintai orang
Kelima, (Marggasira - Nopember) : baik, tidak kurang makan dan minum
Keenem (Posya - Desember) : buruk, janda
Kepitu (Magha - Januari) : baik, mendapat keselamatan, panjang umur
Kawolu (Palguna - Pebruhari) : buruk kurang makan dan minum
Kesanga (Citra- Maret) : buruk sekali, selalu sengsara sakit-sakitan
Kedasa (Waisaka - April) : baik sekali, kaya raya selalu gembira
Desta (Jyesta - Mei) : buruk, duka, sering bertengkar marah
Sada (Asadha - Juni) : buruk, sakit-sakitan.

Demikian gambaran tentang perjodohan dan hari lahir semoga bermaafaat

oleh gede.s.www.power-metafiska.blogspot.com